ARTIKEL TERBARU
image

Pustaka Digital

Copyright © 2013 LPJK Provinsi Jawa Tengah · All Rights Reserved · Powered by Angkasa

Redaksi menerima sumbangan tulisan, foto, artikel atau tulisan lain yang sesuai dengan isi majalah. Tulisan atau artikel dengan format dua spasi, maksimal 4 hal merupakan pendapat pribadi penulis yang setelah disumbangkan (dikrim) memberikan hak pada redaksi untuk menayangkannya.

Langganan Artikel

 

Arsitek Indonesia 10 Tahun Di Belakang Arsitek Asing

image

Agung Dwiyanto

Menyimak, memperhatikan berbagai bangunan pencakar langit yang kini tumbuh dan berkembang dengan pesat di berbagai kota besar, khususnya di Jakarta, memang membuat rasa kagum. Bangunan- bangunan dengan berbagai bentuk dan corak, tentunya juga mengundang satu pertanyaan, siapa arstiteknya. Arsitek anak-anak negeri atau arsitek dari luar negaeri (asing) yang konon sekarang sudah banyak yang berkarya di Indonesia, yaitu di Jakarta dan Bali. Kalau ternyata arsiteknya dari Luar Negeri, apalagi mereka dipandang sudah mempunyai nama, maka ruang – ruang yang ditawarkan dalam bangunan tersebut, cepat laris manis, biarpun harganya ditawarkan selangit. Mereka, di mana saja, kapan saja, ketika di tanya tinggal di mana, akan dengan bangga menyebutkan di tinggal di apartemen yang bangunannya dibuat arsitek dari Luar Negeri. Hal – hal seperti inilah, yang tentunya mengundang satu pertanyaan sampai di mana peran para arsitek – arsitek dari dalam negeri. “Yah kenyataan seperti itulah yang terjadi sekarang. Karena harus diakui, bahwa arsitek –arsitek kita, boleh dikatakan 10 tahun di belakang dari para arsitek asing,“ tutur Ir Agung Dwiyanto, MSi, MArs, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Prov. Jateng di Semarang, ketika berbincang–bincang   tentang dunia arsitek di Indonesia dengan “Pilar Jakon“.

Kenapa bisa dibelakang, satu pertanyaan yang kalau dijawab dengan jujur, ya karena memang kita ketertinggalan dalam segalanya, Dalam bidang pendidikan, seperti diungkapkan semestinya untuk menjadi seorang arsitek memerlukan pendidikan sekitar 5 tahun, akan tetapi yang sekarang berjalan 4 tahun sudah bisa diselesaikan. Belum lagi tentang berbagai peralatan yang menunjang pekerjaan arsitek. Ilmu yang diserap dan juga dipelajari, kebanyakan juga berasal dari luar. Ia memberikan gambaran, pernah pihaknya diundang pengusaha yang mendirikan sebuah Mall di Semarang. Pihak pengusaha, meminta agar ada perobahan design pada lantai dasar, karena dianggap dan dirasakan tidak sesuai dengan situasi atau budaya daerah. Pihaknya menyampaikan memerlukan waktu tiga hari, guna memenuhi permintaan. Akan teta pi ternyata, seorang arsitek dari Singapura, yang juga perencana bangunan tersebut, hanya memerlukan waktu satu hari.

Kok bisa, ketika hal ini terlontar, ternyata arsitek dari Singapura dengan segala kelengkapan sarana yang dimiliki, bisa dengan cepat mengakses berbagai hal yang berkaitan dengan design dari berbagai sumber. Hasil yang disajikan, benar-benar memenuhi berbagai aspek, baik dari segi teknik, keindahan dan sebagainya. Yang penting lagi, keinginan pengusaha bisa terpenuhi. Jadi, ujar Agung yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di UNDIP Jurusan Arsitektur tahun 1988, dari berbagai kenyataan yang terjadi di lapangan, maka para arsitek – arsitek Indonesia semestinya bias mawas diri. Kalau ingin mengejar ketertinggalan tentunya akan sulit. Kita sampai pada tataran tertentu, mereka sudah lebih maju lagi. Padahal, kalau kita mau memperlajari serta memperdalam tentang berbagai hal yang menyangkut arsitek dalam negeri, masih sangat banyak yang bisa diperoleh dan di pelajari.

Kalau kita perhatikan, kaitannya dengan masalah bangunan-bangunan, para pendahulu atau nenek moyang kita, sebenarnya sudah mengusai benar masalah -masalah teknik yang berkaitan dengan membangun gedung atau rumah. Dulu, tidak ada yang namanya bangunan memakai paku, Antara satu bagian dengan bagian lain yang berupa kayu, dikuatkan dengan pantek. Juga, pengaturan pembuatan pintu, jendela dan sebagainya, sehingga bangunan misalnya yang berbentuk joglo, nampak indah, kuat dan begitu masuk rasanya dingin dan nyaman, Juga kalau terjadi gempa, tidak akan mempengaruhi struktur bangunan, karena dengan cara pembuatan seperti itu, bangunan akan jadi lentur. “Hal-hal seperti ini, yang kami maksudkan, agar para arsitek Indonesia, bisa mempelajari berbagai bangunan yang ada di negeri sendiri (arsitektur tradisional) yang banyak ragam dan corak nya, sesuai dengan adat istiadat masing-masing. Di Jateng sendiri, banyak, misalnya bangunan ber bentuk joglo, imasan, pesisiran dan sebagainya,“ kata Agung Dwiyanto yang berhasil menyelesaikan Pasca Sarjana (S2) di bidang arsitektur di ITB tahun 1993 dan mulai tahun 2008 teripilih menjadi Ketua Jurusan Arsitektur Fak Tehnik UNDIP. Ia lebih jauh memberikan gambaran karya arsitek bangsa Jerman yang bernama Frei Otto, dengan karyanya membuat Stadion ALLIANZ ARENA di BUYER MUENCHEN di Jerman, yang cukup megah dan fenomental, ternyata ide dasarnya dalam membuat perencanaan, didasari atas hasil risetnya pada berbagai bangunan yang ada di Sumatra, khususnya bangunan – bangunan pada suku Batak. Otto sendiri, demikian dikatakan menuturkan hal tersebut dalam berbagai kesempatan. Dari hasil riset dan penelitiannya, kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan kemajuan teknologi yang ada dan terus berkembang.

Buat Mereka Belajar :
 Perbincangan tentang dunia arsitektur yang terus berkem bang dan berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi, apalagi sesekali diimbangi dengan sajian kopi hangat disertai sejuknya udara, makin bertambah hangat. Sesekali, terlontar hal-hal yang benar-benar menyentuh hati. Kalau kita tertinggal 10 tahun dari arsitek asing, terus bagaimana nasib arsitek bangsa sendiri, kedepan. Padahal, pendidikan kearsitekturan yang bertebaran di berbagai Fakultas Teknik yang ada di berbagai Universitas, tiap tahun makin bertambah. “Ya untuk itu, arsitek kita harus mau menyadari, akan ketertinggalan dan mau untuk terus belajar mengejar ketertinggalan. Kalau secara teknologi terus ketinggalan, ya pelajari dan perdalam tentang arsitektur tradisionil, sehingga kalau mereka mau ikut membuat, mereka yang harus belajar ke arsitek kita,“ katanya mantap.

Hal-hal seperti itu, yang kini menjadi salah satu tugas serta kewajibannya, untuk membangkitkan para aristek-arsitek bangsa sendiri, agar tidak  tertinggal dan tetap bisa berkarya di negeri sendiri, Apalagi, bagi suami Sarwitrisari yang juga seorang arsitek, yang telah terpilih sebagai Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Prov Jateng dalam Musda IAI yang diselenggarakan tahun 2011 lalu. Kalau mau, tuturnya sebenarnya banyak hal yang bisa dibuat dan dikerjakan para arsitek kita, Apalagi, kalau semuanya didasari dengan sikap professional. Sikap professional ini, digambarkan dengan tanpa menyebutkan nama nya. Ada seorang arsitek dari Asing (Luar Negeri), yang sudah terkenal dengan karya – karya yang sangat fenomental diseantero dunia, menolak ta waran dari pengusaha real es tate Indonesia, untuk membuat design bangunan apartemen di sebuah pantai di Jakarta. Kenapa menolak, karena asitek tersebut menyatakan masih mempunyai satu pekerjaan yang belum diselesaikan di Dubai. Padahal, tawaran pembuatan design tersebut, bayarannya selangit. “Coba, kalau kita mendapat tawaran seperti itu. Menolak atau menerima, tentu akan menerima dengan gembira“.

Masih berkaitan dengan sikap profesional itu, ketika disinggung dengan akan dikeluar kannya Undang Undang tentang kearsitekturan yang kini tengah digodok di lembaga legislative, dengan cepat ia menyatakan menyambut baik. Dengan UU kearsitekan, tegasnya tentunya ke depan bisa menjadi landasan atau pijakan bagi para arsitek untuk melaksanakan  pekerjaannya.Justru kini, para arsitek yang harus mulai bersiap dan menata diri. Siap atau tidak, begitu nantinya diberlakukan UU tersebut. Pasal nya, nantinya tentu akan jelas apa yang menjadi hak, kewajiban dan sebagainya dari seorang arsitek dan sebagainya.

Bagi IAI, khususnya di Jateng, yang kini beranggotakan sekitar 500 orang dan sudah bersertifikat, diharapkan bias mawas diri dan mau dan terus meningkatkan pengetahuan. Perdalam dan pelajari dunia arsitek tradisional yang beranekaragam. Kalau seorang insinyur dari Jerman mampu dan bias mengadopsi arsitektur suku Batak, kenapa bangsa sendiri tidak bisa.

"Saya percaya, kalau kita mau semestinya bisa berbuat lebih banyak, karena kita dilahirkan dan dibesarkan di daerah sendiri. Seorang arsitek, kalau mengusai tiga hal yaitu dalam bidang progaming, exploring dan maketing, di mana saja, tentu tidak akan kehabisan lahan untuk dikerjakan. Lahan masih terbuka lebar. Kita harus ingat, Indonesia sekarang ini menjadi incaran para arsitek asing yang ingin masuk dan berkarya dan hal ini sudah terbukti.” Ujar Agung Dwiyanto yang selama melakoni pekerjaannya sebagai seorang arsitek merasakan benar – benar sangat berarti bagi kariernya, Seperti ketika membuat design bangunan RS di Wonosobo yang membuat perencanaan segala hal sejak dari awal. Design bangu nan Pusdiklat PMI di Sambiroto, Gedung Geologi Fak Teknik Un dip, Gedung Prof. Soedahrto dan sebagainya, Hanya ketika membuat design rumah sendiri yang tak kunjung selesai. Pasalnya, karena sama-sama arsitek, maka tidak saling ketemu dalam membuat design. Satu sama lain, berbeda pandang soal keindahan dan sebagainya. “Yang penting pekerjaan dulu. Soal bangun rumah, nanti-nanti aja,“ kata Agung panggilan akrabnya, yang dalam kesehariannya juga mempunyai usaha dalam bidang konsultan dengan nama CV. Graha Rekha.
[] (Har/Pdy)


EDISI TERBARU
image

Edisi 17 - Tahun V - April - Juni 2013



image

LPJK PROVINSI JAWA TENGAH

image

 

.