
Redaksi menerima sumbangan tulisan, foto, artikel atau tulisan lain yang sesuai dengan isi majalah. Tulisan atau artikel dengan format dua spasi, maksimal 4 hal merupakan pendapat pribadi penulis yang setelah disumbangkan (dikrim) memberikan hak pada redaksi untuk menayangkannya.
Dinamika | Info | Karangan Khas | Kronik | Laporan Utama | Peristiwa | Profil | Serba-serbi | Sosok | Wacana
Pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang akan dipercepat dan kini memasuki tahapan konsolidasi lahan bagian apron dan landasan pacu, menyusul meningkatnya permintaan penambahan frekuensi penerbangan dari sejumlah maskapai.
Tahap konsolidasi lahan dilakukan dengan pemasangan 4,3 juta Prefabricated Vertical Drain (PVD), guna menaikan atau mengeluarkan air dari bawah dengan PVD berbentuk lembaran plastik untuk drainase vertikal yang panjang dan berkantung itu ditanam dengan kedalaman 24 meter.
Manager Proyek Pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang Taufan Hidayat menyatakan konsolidasi lahan itu dilakukan untuk mempercepat proses pemadatan tanah agar pengerjaan fisik bisa segera dilaksanakan.
“Pengembangan Bandara A Yani dibangun di atas lahan seluas 20 hektare dan terdapat 4,3 juta PVD yang akan dipasang pada 180 titik, proses pemasangan PVD saat ini sudah mencapai 10%,” ujarnya.
Menurutnya, proses pemadatan tanah belakangan ini terkendala hujan. Namun akan terus diupayakan untuk mempercepat pelaksana proyek hingga rampung sesuai jadwal yang direncanakan.
Sebelumnya Gubernur Jateng Bibit Waluyo meminta pengembangan Bandara A Yani bisa dipercepat, guna mengantisipasi peningkatan frekuensi penerbangan oleh sejumlah maskapai penerbangan baik domestik maupun luar negeri.
“Bandara A Yani perlu segera ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya dan Mei ini pengembangan Bandara sudah memasuki pengerasan apron, sehingga dengan areal seluas 20 hektare, bandara dipastikan sudah mampu menampung 10 pesawat berbadan lebar,” ujar Bibit.
Pengembangan bandara baru, lanjutnya, nanti bisa menampung 10 pesawat dan jika Jatim memiliki 17 garbarata, Jateng diharapkan mempanyai lima garbarata.
Saat ini PT Angkasa Pura I Bandara WACANA LPJK Ahmad Yani Semarang masih menolak pengajuan izin tambahan frekuensi penerbangan oleh sejumlah maskapai, karena keterbatasan kapasitas apron bandara internasional di ibukota Jateng itu.
General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Ahmad Yani Semarang Priyo Jatmiko mengatakan maskapai Batavia Air tidak mendapat persetujuan, karena slot time sudah sangat padat.
Batavia Air selama ini melayani rute penerbangan Semarang-Jakarta dengan frekuensi satu kali setiap hari dan Semarang-Singapura empat kali dalam sepekan.
“Kami tidak bisa mengabulkan pengajuan tambahan flight karena apronnya terbatas,” tuturnya.
Kondisi sekarang, lanjutnya, kapasitas apron hanya sanggup menampung lima unit pesawat Airbus atau setara enam unit pesawat Boeing dengan 60 flight.
Selain itu, dia menambahkan pihaknya ingin memberikan kesempatan kepada maskapai lain untuk menerbangi Semarang. Seperti maskapai Air Asia misalnya, yang akan mengoperasikan penerbangan Semarang-Jakarta dua kali sehari setelah sukses membuka rute Semarang-Kuala Lumpur pada awal Februari
lalu.
Menyusul Indonesia Air Transport berencana mengoperasikan rute Semarang-Pangkalan Bun dengan frekuensi dua kali sehari pada pertengahan Maret. Begitu juga Susi Air akan membuka rute Semarang-Cilacap dengan frekuensi satu kali sehari. Bahkan Royal Pasifik juga akan menerbangi Semarang-Jakarta dua kali sehari.
“Semuanya segera beroperasi secepatnya, bisa pertengahan atau akhir bulan. Saat ini izin sedang diproses di Ditjen Perhubungan,” ujarnya.
Dengan meningkatnya penambahan frekuensi penerbangan itu, menunjukkan pengembangan Bandara Ahmad Yani perlu dipercepat dan sangat mendesak. Terlebih lagi dengan jumlah penumpang yang terus meningkat dari 2.500-3.000 orang per hari pada tahun lalu menjadi sekitar 3.800 orang saat ini.
Kondisi itu, lanjutnya, juga salah satu faktor yang mendorong pengembangan bandara harus terus dikebut dengan rencana memperluas apron menjadi 63.000 m2 dari 29.000 m2 saat ini, sehingga mampu menampung 10 pesawat berbadan lebar.
“Bahkan terminal penumpang juga segera diperluas dari semula 6.708 m2 menjadi 26.000 m2 dan akan dilengkapi public area dengan tambahan fasilitas wisata kuliner dan aviasi serta rutin menggelar kegiatan seni dan budaya,” tuturnya. (Pdy)